Excellent Indonesian Legal Services
Konfirmasi Pembayaran
0812-8529-8858

Akta Pendirian Yayasan

Jasa Pendirian Yayasan

AKTA PENDIRIAN

YAYASAN ANGIN RIBUT

Nomor: 01.

-Pada hari, tanggal).

-Hadir di hadapan saya, Notaris di , dengan dihadiri saksi-saksi yang nama-namanya akan disebut dalam akhir akta ini:

1. Tuan (sesuai yang tertulis dalam Kartu

Tanda Penduduk), lahir di, pada tanggal

-untuk sementara berada di ;

2. Tuan (sesuai yang tertulis dalam Kartu

Tanda Penduduk), lahir di , pada tanggal ;

-untuk sementara berada di ;

3. Tuan (sesuai yang tertulis dalam

Kartu Tanda Penduduk), lahir di, pada tanggal ;

-untuk sementara berada di;

4. Nona (dalam Kartu

Tanda Penduduk), lahir di, pada tanggal;

-untuk sementara berada di ;

5. Nona (sesuai yang tertulis dalam

Kartu Tanda Penduduk), lahir di , pada tanggal ;

-untuk sementara berada di ;

-Para penghadap saya, Notaris, kenal.

-Para penghadap menerangkan:

–  Dengan ini memisahkan dari harta kekayaan berupa

uang tunai sebesar ).

–  Bahwa dengan tidak mengurangi ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku serta dengan izin dari pihak yang berwenang, penghadap/para penghadap sepakat dan setuju untuk mendirikan suatu yayasan dengan anggaran dasar (untuk selanjutnya disebut “Anggaran Dasar“) tertulis dan berbunyi sebagai berikut:

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1

1. Yayasan ini bernama:

YAYASAN SENTOSA SELALU

(selanjutnya dalam Anggaran Dasar ini cukup disingkat dengan), berkedudukan dan berkantor pusat di .

2. Yayasan dapat membuka kantor cabang atau

Perwakilan di tempat lain, baik di dalam maupun di luar wilayah Republik Indonesia berdasarkan keputusan Pengurus dengan persetujuan Pembina.

MAKSUD DAN TUJUAN

Pasal 2

Yayasan mempunyai maksud dan tujuan di bidang Sosial, di bidang Kemanusiaan dan di bidang Keagamaan.

KEGIATAN

Pasal 3

Untuk mencapai maksud dan tujuan Yayasan tersebut di atas, Yayasan akan menjalankan kegiatan sebagai berikut:

1. Di bidang Sosial:

a. Lembaga formal dan non formal;

b. Panti Asuhan, Panti Jompo dan Panti Wreda;

c. Rumah Sakit, Poliklinik dan Laboratorium;

d. Penelitian di bidang Ilmu Pengetahuan;

f. Studi Banding.

2. Di bidang Kemanusiaan:

a. Memberi bantuan kepada korban bencana alam;

b. Memberikan bantuan kepada pengungsi akibat

perang;

c. Memberi bantuan kepada tuna wisma, fakir miskin

dan gelandangan;

d. Mendirikan dan menyelenggarakan rumah singgah

dan rumah duka;

e. Melestarikan lingkungan hidup.

3. Di bidang Keagamaan:

a. Mendirikan sarana ibadah;

b. Menyelenggarakan pondok pesantren dan madrasah;

c. Menerima dan menyalurkan amal zakat, infaq dan

sedekah.

JANGKA WAKTU

Pasal 4

Yayasan ini didirikan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan lamanya.

KEKAYAAN

Pasal 5

1. Yayasan mempunyai kekayaan awal yang berasal dari

kekayaan Pendiri yang dipisahkan, terdiri dari uang tunai sebesar Rp .

2. Selain kekayaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

kekayaan Yayasan dapat juga diperoleh dari:

a. sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat;

b. wakaf;

c. hibah;

d. hibah wasiat;

e. perolehan lain yang tidak bertentangan dengan

Anggaran Dasar Yayasan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Semua kekayaan Yayasan harus dipergunakan untuk

mencapai maksud dan tujuan Yayasan.

ORGAN YAYASAN

Pasal 6

1. Yayasan ini mempunyai organ yang terdiri dari:

a. Pembina;

b. Pengurus;

c. Pengawas.

PEMBINA

Pasal 7

1. Pembina adalah organ Yayasan yang mempunyai

kewenangan yang tidak diserahkan kepada Pengurus atau Pengawas.

2. Pembina terdiri dari seorang atau lebih anggota

Pembina.

3. Dalam hal terdapat lebih dari seorang anggota

Pembina, maka seorang diantaranya diangkat sebagai Ketua Pembina.

4. Yang dapat diangkat sebagai anggota Pembina adalah

orang perseorangan sebagai Pendiri Yayasan dan/atau mereka yang berdasarkan keputusan rapat anggota Pembina dinilai mempunyai dedikasi yang tinggi untuk mencapai maksud dan tujuan Yayasan.

5. Anggota Pembina tidak diberi gaji dan/atau

tunjangan oleh Yayasan.

6. Dalam hal Yayasan oleh karena sebab apapun tidak

lagi mempunyai anggota Pembina, maka dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya lowongan tersebut wajib diangkat anggota Pembina berdasarkan keputusan rapat gabungan anggota Pengawas dan anggota Pengurus.

7. Seorang anggota Pembina berhak mengundurkan diri

dari jabatannya dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksud tersebut kepada Yayasan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal pengunduran dirinya.

MASA JABATAN PEMBINA

Pasal 8

1. Masa jabatan Pembina tidak ditentukan lamanya.

2. Jabatan anggota Pembina akan berakhir dengan

sendirinya apabila anggota Pembina tersebut:

a. meninggal dunia;

b. mengundurkan diri dengan pemberitahuan secara

tertulis sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (7);

c. tidak lagi memenuhi persyaratan perundang

undangan yang berlaku;

d. diberhentikan berdasarkan keputusan Rapat

Pembina;

e. dinyatakan pailit atau ditaruh dibawah

pengampuan berdasarkan suatu penetapan pengadilan;

f. dilarang untuk menjadi anggota Pembina karena

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Anggota Pembina tidak boleh merangkap sebagai

anggota Pengurus dan/atau anggota Pengawas.

TUGAS DAN WEWENANG PEMBINA

Pasal 9

1. Pembina berwenang bertindak untuk dan atas nama

Pembina.

2. Kewenangan Pembina meliputi:

a. keputusan mengenai perubahan Anggaran Dasar;

b. pengangkatan dan pemberhentian anggota Pengurus

dan anggota Pengawas;

c. penetapan kebijakan umum Yayasan berdasarkan

Anggaran Dasar Yayasan;

d. pengesahan program kerja dan rancangan anggaran

tahunan Yayasan;

e. penetapan keputusan mengenai penggabungan atau

pembubaran Yayasan;

f. pengesahan laporan tahunan;

g. penunjukkan likuidator dalam hal Yayasan

dibubarkan.

3. Dalam hal hanya ada seorang anggota Pembina, maka

segala tugas dan wewenang yang diberikan kepada Ketua Pembina atau anggota Pembina berlaku pula baginya.

RAPAT PEMBINA

Pasal 10

1. Rapat Pembina diadakan paling sedikit sekali 1

(satu) tahun, paling lambat dalam waktu 5 (lima) bulan setelah akhir tahun buku sebagai rapat tahunan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. Pembina dapat juga mengadakan rapat setiap waktu bila dianggap perlu atas permintaan tertulis dari seorang atau lebih anggota Pembina, anggota Pengurus, atau anggota Pengawas.

2. Panggilan Rapat Pembina dilakukan oleh Pembina

secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.

3. Panggilan rapat itu harus mencantumkan hari,

tanggal, waktu, tempat, dan acara rapat.

4. Rapat Pembina diadakan di tempat kedudukan Yayasan,

atau di tempat kegiatan Yayasan, atau di tempat lain dalam wilayah hukum Republik Indonesia.

5. Dalam hal semua anggota Pembina hadir, atau

diwakili, panggilan tersebut tidak disyaratkan dan Rapat Pembina dapat diadakan di manapun juga dan berhak mengambil keputusan yang sah dan mengikat.

6. Rapat Pembina dipimpin oleh Ketua Pembina, dan jika

Ketua Pembina tidak hadir atau berhalangan, maka Rapat Pembina akan dipimpin oleh seorang yang dipilih oleh dan dari anggota Pembina yang hadir.

7. Seorang anggota Pembina hanya dapat diwakili oleh

anggota Pembina lainnya dalam Rapat Pembina berdasarkan surat kuasa.

KUORUM RAPAT PEMBINA

Pasal 11

1. Rapat Pembina adalah sah dan berhak mengambil yang

mengikat apabila:

a. dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari

jumlah anggota Pembina;

b. dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) huruf a tidak tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Pembina kedua;

c. pemanggilan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat

(1) huruf b, harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.

d. Rapat Pembina kedua diselenggarakan paling cepat

10 (sepuluh) hari dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak Rapat Pembina pertama.

e. Rapat Pembina kedua adalah sah dan berhak

mengambil keputusan yang mengikat, apabila dihadiri lebih dari 1/2 (satu per dua) jumlah anggota Pembina.

2. Keputusan Rapat Pembina diambil berdasarkan

musyawarah untuk mufakat.

3. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk

mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara setuju lebih dari 1/2 (satu per dua) jumlah suara yang sah.

4. Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama

banyaknya, maka usul ditolak.

5. Tata cara pemungutan suara dilakukan sebagai

berikut:

a. setiap anggota Pembina yang hadir berhak

mengeluarkan 1 (satu) suara dan tambahan 1 (satu) suara untuk setiap anggota Pembina lain yang diwakilinya;

b. pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan

dengan surat suara tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka dan ditandatangani, kecuali Ketua Rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir;

c. suara yang abstain dan suara yang tidak sah

tidak dihitung dalam menentukan jumlah suara yang dikeluarkan.

6. Setiap Rapat Pembina dibuat berita acara rapat yang

ditandatangani oleh Ketua Rapat dan Sekretaris Rapat.

7. Penandatanganan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6)

tidak disyaratkan apabila berita acara rapat dibuat dengan akta notaris.

8. Pembina dapat mengambil keputusan yang sah tanpa

mengadakan Rapat Pembina, dengan ketentuan semua anggota Pembina telah diberitahu secara tertulis dan semua anggota Pembina memberitahukan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis serta menandatangani persetujuan tersebut.

9. Keputusan yang diambil sebagaimana dimaksud dalam

ayat (8), mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam Rapat Pembina.

10.   Dalam hal hanya ada 1 (satu) orang Pembina, maka

dia dapat mengambil keputusan yang sah dan mengikat.

RAPAT TAHUNAN

Pasal 12

1. Pembina wajib menyelenggarakan Rapat Tahunan setiap

tahun, paling lambat 5 (lima) bulan setelah tahun buku Yayasan ditutup.

2. Dalam Rapat Tahunan, Pembina melakukan:

a. evaluasi tentang harta kekayaan, hak dan

kewajiban Yayasan tahun yang lampau sebagai dasar pertimbangan bagi perkiraan mengenai perkembangan Yayasan untuk tahun yang akan datang;

b. pengesahan laporan tahunan yang diajukan

Pengurus;

c. penetapan kebijakan umum Yayasan;

d. pengesahan program kerja dan rancangan anggaran

tahunan Yayasan.

3. Pengesahan laporan tahunan oleh Pembina dalam Rapat

Tahunan, berarti memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada para anggota Pengurus dan Pengawas atas pengurusan dan pengawasan yang telah dijalankan selama tahun buku yang lalu, sejauh tindakan tersebut tercermin dalam laporan tahunan.

PENGURUS

Pasal 13

1. Pengurus adalah organ Yayasan yang melaksanakan

kepengurusan Yayasan yang sekurang-kurangnya terdiri dari:

a. seorang Ketua;

b. seorang Sekretaris; dan

c. seorang Bendahara.

2. Dalam hal diangkat lebih dari 1 (satu) orang Ketua,

maka 1 (satu) orang di antaranya diangkat sebagai Ketua Umum.

3. Dalam hal diangkat lebih dari 1 (satu) orang

Sekretaris, maka 1 (satu) orang diantaranya diangkat sebagai Sekretaris Umum.

4. Dalam hal diangkat lebih dari 1 (satu) orang

Bendahara, maka 1 (satu) orang diantaranya diangkat sebagai Bendahara Umum.

Pasal 14

1. Yang dapat diangkat sebagai anggota Pengurus adalah

orang perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak dinyatakan bersalah dalam melakukan pengurusan Yayasan yang menyebabkan kerugian bagi Yayasan, masyarakat, atau negara berdasarkan putusan pengadilan, dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak tanggal putusan tersebut berkekuatan hukum tetap.

2. Pengurus diangkat oleh Pembina melalui Rapat

Pembina untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali.

3. Pengurus dapat menerima gaji, upah atau honorarium

apabila Pengurus Yayasan:

a. bukan pendiri Yayasan dan tidak terafiliasi

dengan Pendiri, Pembina dan Pengawas; dan

b. melaksanakan kepengurusan Yayasan secara

langsung dan penuh.

4. Dalam hal jabatan Pengurus kosong, maka

dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan, Pembina harus menyelenggarakan rapat, untuk mengisi kekosongan itu.

5. Dalam hal semua jabatan Pengurus kosong, maka dalam

jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan tersebut, Pembina harus menyelenggarakan rapat untuk mengangkat Pengurus baru, dan untuk sementara Yayasan diurus oleh Pengawas.

6. Pengurus berhak mengundurkan diri dari jabatannya,

dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksudnya tersebut kepada Pembina paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal pengunduran dirinya.

7. Dalam hal terdapat penggantian Pengurus Yayasan,

maka dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal dilakukan penggantian pengurus Yayasan, Pengurus wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan Instansi terkait.

8. Pengurus tidak dapat merangkap sebagai Pembina,

Pengawas.

Pasal 15

Jabatan anggota Pengurus berakhir apabila:

1. meninggal dunia;

2. mengundurkan diri;

3. bersalah melakukan tindak pidana berdasarkan putusan

pengadilan yang diancam dengan hukuman penjara paling sedikit 5 (lima) tahun;

4. diberhentikan berdasarkan keputusan Rapat Pembina;

5. masa jabatan berakhir.

TUGAS DAN WEWENANG PENGURUS

Pasal 16

1. Pengurus bertanggung jawab penuh atas kepengurusan

Yayasan untuk kepentingan Yayasan.

2. Pengurus wajib menyusun program kerja dan rancangan

anggaran tahunan Yayasan untuk disahkan Pembina.

3. Pengurus wajib memberikan penjelasan tentang segala

hal yang dinyatakan oleh Pengawas.

4. Setiap anggota Pengurus wajib dengan itikad baik

dan penuh tanggung jawab menjalankan tugasnya dengan mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Pengurus berhak mewakili Yayasan di dalam dan di

luar pengadilan tentang segala hal dan dalam segala kejadian, dengan pembatasan terhadap hal-hal sebagai berikut:

a. meminjam atau meminjamkan uang atas nama Yayasan

(tidak termasuk mengambil uang Yayasan di Bank);

b. mendirikan suatu usaha baru atau melakukan

penyertaan dalam berbagai bentuk usaha baik di dalam maupun di luar negeri;

c. memberi atau menerima pengalihan atas harta

tetap;

d. membeli atau dengan cara lain

mendapatkan/memperoleh harta tetap atas nama Yayasan;

e. menjual atau dengan cara lain melepaskan

kekayaan Yayasan serta mengagunkan/membebani kekayaan Yayasan;

f. mengadakan perjanjian dengan organisasi yang

terafiliasi dengan Yayasan, Pembina, Pengurus dan/atau Pengawas Yayasan atau seorang yang bekerja pada Yayasan, yang perjanjian tersebut bermanfaat bagi tercapainya maksud dan tujuan Yayasan.

6. Perbuatan Pengurus sebagaimana diatur dalam ayat

(5) huruf a, b, c, d, e dan f harus mendapat persetujuan dari Pembina.

Pasal 17

Pengurus tidak berwenang mewakili Yayasan dalam hal:

1. mengikat Yayasan sebagai penjamin utang;

2. membebani kekayaan Yayasan untuk kepentingan pihak

lain;

3. mengadakan perjanjian dengan organisasi yang

terafiliasi dengan Yayasan, Pembina, Pengurus dan/atau Pengawas Yayasan atau seseorang yang berkerja pada Yayasan, yang perjanjian tersebut tidak ada hubungannya bagi tercapainya maksud dan tujuan Yayasan.

Pasal 18

1. Ketua Umum bersama-sama dengan salah seorang

anggota Pengurus lainnya berwenang bertindak untuk dan atas nama Pengurus serta mewakili Yayasan.

2. Dalam hal Ketua Umum tidak hadir atau berhalangan

karena sebab apapun juga, hal tersebut tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga, maka seorang Ketua lainnya bersama-sama dengan Sekretaris Umum atau apabila Sekretaris Umum tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun juga, hal tersebut tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga, seorang Ketua lainnya bersama-sama dengan seorang Sekretaris lainnya berwenang bertindak untuk dan atas nama Pengurus serta mewakili Yayasan.

3. Dalam hal hanya ada seorang Ketua, maka segala

tugas dan wewenang yang diberikan kepada Ketua Umum berlaku juga baginya.

4. Sekretaris Umum bertugas mengelola administrasi

Yayasan, dalam hal hanya ada seorang Sekretaris, maka segala tugas dan wewenang yang diberikan kepada Sekretaris Umum berlaku juga baginya.

5. Bendahara Umum bertugas mengelola keuangan Yayasan,

dalam hal hanya ada seorang Bendahara, maka segala tugas dan wewenang yang diberikan kepada Bendahara Umum berlaku juga baginya.

6. Pembagian tugas dan wewenang setiap anggota

Pengurus ditetapkan oleh Pembina melalui Rapat Pembina.

7. Pengurus untuk perbuatan tertentu berhak mengangkat

seorang atau lebih wakil atau kuasanya berdasarkan surat kuasa.

PELAKSANA KEGIATAN

Pasal 19

1. Pengurus berwenang mengangkat dan memberhentikan

Pelaksana Kegiatan Yayasan berdasarkan keputusan Rapat Pengurus.

2. Yang dapat diangkat sebagai Pelaksana Kegiatan

Yayasan adalah orang perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak pernah dinyatakan pailit atau dipidana karena melakukan tindakan yang merugikan Yayasan, masyarakat, atau negara berdasarkan putusan pengadilan, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal putusan tersebut berkekuatan hukum tetap.

3. Pelaksana Kegiatan Yayasan diangkat oleh Pengurus

berdasarkan keputusan Rapat Pengurus untuk jangka waktu dan dapat diangkat kembali dengan tidak mengurangi keputusan Rapat Pengurus untuk memberhentikan sewaktu-waktu.

4. Pelaksana Kegiatan Yayasan bertanggung jawab kepada

Pengurus.

5. Pelaksana Kegiatan Yayasan menerima gaji, upah,

atau honorarium yang jumlahnya ditentukan berdasarkan keputusan Rapat Pengurus.

Pasal 20

1. Dalam hal terjadi perkara di pengadilan antara

Yayasan dengan anggota Pengurus atau apabila kepentingan pribadi seorang anggota Pengurus bertentangan dengan Yayasan, maka anggota Pengurus yang bersangkutan tidak berwenang bertindak untuk dan atas nama Pengurus serta mewakili Yayasan, maka anggota Pengurus lainnya bertindak untuk dan atas nama Pengurus serta mewakili Yayasan.

2. Dalam hal Yayasan mempunyai kepentingan yang

bertentangan dengan kepentingan seluruh Pengurus, maka Yayasan diwakili oleh Pengawas.

RAPAT PENGURUS

Pasal 21

1. Rapat Pengurus dapat diadakan setiap waktu bila

dipandang perlu atas permintaan tertulis dari satu orang atau lebih Pengurus, Pengawas, atau Pembina.

2. Panggilan Rapat Pengurus dilakukan oleh Pengurus

yang berhak mewakili Pengurus.

3. Panggilan Rapat Pengurus disampaikan kepada setiap

anggota Pengurus secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.

4. Panggilan Rapat Pengurus itu harus mencantumkan

tanggal, waktu, tempat, dan acara rapat.

5. Rapat Pengurus diadakan di tempat kedudukan Yayasan

atau di tempat kegiatan Yayasan.

6. Rapat Pengurus dapat diadakan di tempat lain dalam

wilayah Republik Indonesia dengan persetujuan Pembina.

Pasal 22

1. Rapat Pengurus dipimpin oleh Ketua Umum.

2. Dalam hal Ketua Umum tidak dapat hadir atau

berhalangan, maka Rapat Pengurus akan dipimpin oleh seorang anggota Pengurus yang dipilih oleh dan dari Pengurus yang hadir.

3. Satu orang Pengurus hanya dapat diwakili oleh

Pengurus lainnya dalam Rapat Pengurus berdasarkan surat kuasa.

4. Rapat Pengurus sah dan berhak mengambil keputusan

yang mengikat apabila:

a. dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga)

jumlah Pengurus;

b. dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat

(4) huruf a tidak tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Pengurus kedua;

c. pemanggilan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat

(4) huruf b, harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat;

d. Rapat Pengurus kedua diselenggarakan paling

cepat 10 (sepuluh) hari dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak Rapat Pengurus pertama;

e. Rapat Pengurus kedua sah berhak mengambil

keputusan yang mengikat, apabila dihadiri lebih dari 1/2 (satu per dua) jumlah Pengurus.

Pasal 23

1. Keputusan Rapat Pengurus harus diambil berdasarkan

musyawarah untuk mufakat.

2. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk

mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara setuju lebih dari 1/2 (satu per dua) jumlah suara yang sah.

3. Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama

banyaknya, maka usul ditolak.

4. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan

dengan surat suara tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali Ketua Rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir.

5. Suara abstain dan suara yang tidak sah tidak

dihitung dalam menentukan jumlah suara yang dikeluarkan.

6. Setiap Rapat Pengurus dibuat berita acara rapat

yang ditandatangani oleh Ketua Rapat dan 1 (satu) orang anggota Pengurus lainnya yang ditunjuk oleh rapat sebagai Sekretaris Rapat.

7. Penandatanganan yang dimaksud dalam ayat (6) tidak

disyaratkan apabila berita acara rapat dibuat dengan akta notaris.

8. Pengurus dapat juga mengambil keputusan yang sah

tanpa mengadakan Rapat Pengurus, dengan ketentuan semua anggota Pengurus telah diberitahu secara tertulis dan semua anggota Pengurus memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis serta menandatangani persetujuan tersebut.

9. Keputusan yang diambil sebagaimana dimaksud dalam

ayat (8), mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam Rapat Pengurus.

PENGAWAS

Pasal 24

1. Pengawas adalah organ Yayasan yang bertugas

melakukan pengawasan dan memberi nasihat kepada Pengurus dalam menjalankan kegiatan Yayasan.

2. Pengawas terdiri dari 1 (satu) orang atau lebih

anggota Pengawas.

3. Dalam hal diangkat lebih dari 1 (satu) orang

Pengawas, maka 1 (satu) orang diantaranya dapat diangkat sebagai Ketua Pengawas.

Pasal 25

1. Yang dapat diangkat sebagai anggota Pengawas adalah

orang perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak dinyatakan bersalah dalam melakukan pengawasan Yayasan yang menyebabkan kerugian bagi Yayasan, masyarakat atau negara Jasa Pendirian Yayasan berdasarkan putusan Pengadilan, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal putusan tersebut berkekuatan hukum tetap.

2. Pengawas diangkat oleh Pembina melalui Rapat

Pembina untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali.

3. Dalam hal jabatan Pengawas kosong, maka dalam

jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan, Pembina harus menyelenggarakan rapat, untuk mengisi kekosongan itu.

4. Dalam hal semua jabatan Pengawas kosong, maka dalam

jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan tersebut, Pembina harus menyelenggarakan rapat untuk mengangkat Pengawas baru, dan untuk sementara Yayasan diurus oleh Pengurus.

5. Pengawas berhak mengundurkan diri dari jabatannya,

dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksudnya tersebut kepada Pembina paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal pengunduran dirinya.

6. Dalam hal terdapat penggantian Pengawas Yayasan,

maka dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal dilakukan penggantian Pengawas Yayasan, Pengurus wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan Instansi terkait.

7. Pengawas tidak dapat merangkap sebagai Pembina,

Pengurus atau Pelaksana Kegiatan.

Pasal 26

Jabatan Pengawas berakhir apabila:

1. meninggal dunia;

2. mengundurkan diri;

3. bersalah melakukan tindak pidana berdasarkan putusan

Pengadilan yang diancam dengan hukuman penjara paling sedikit 5 (lima) tahun;

4. diberhentikan berdasarkan keputusan Rapat Pembina;

5. masa jabatan berakhir.

TUGAS DAN WEWENANG PENGAWAS

Pasal 27

1. Pengawas wajib dengan itikad baik dan penuh

tanggung jawab menjalankan tugas pengawasan untuk kepentingan Yayasan.

2. Ketua Pengawas dan satu anggota Pengawas berwenang

bertindak untuk dan atas nama Pengawas.

3. Pengawas berwenang:

a. memasuki bangunan, halaman, atau tempat lain

yang dipergunakan Yayasan;

b. memeriksa dokumen;

c. memeriksa pembukuan dan mencocokkannya dengan

uang kas; atau

d. mengetahui segala tindakan yang telah dijalankan

oleh Pengurus;

e. memberi peringatan kepada Pengurus.

4. Pengawas dapat memberhentikan untuk sementara 1

(satu) orang atau lebih Pengurus, apabila Pengurus tersebut bertindak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Pemberhentian sementara itu harus diberitahukan

secara tertulis kepada yang bersangkutan disertai alasannya.

6. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari terhitung sejak

tanggal pemberhentian sementara itu, Pengawas diwajibkan untuk melaporkan secara tertulis kepada Pembina.

7. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari terhitung sejak

tanggal laporan diterima oleh Pembina sebagaimana dimaksud dalam ayat (6), maka Pembina wajib memanggil anggota Pengurus yang bersangkutan untuk diberi kesempatan membela diri.

8. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari terhitung sejak

tanggal pembelaan diri sebagaimana dimaksud dalam ayat (7), Pembina dengan keputusan Rapat Pembina wajib:

a. mencabut keputusan pemberhentian sementara; atau

b. memberhentikan anggota Pengurus yang

bersangkutan.

9. Dalam hal Pembina tidak melaksanakan ketentuan

sebagaimana dimaksud dalam ayat (7) dan ayat (8), maka pemberhentian sementara batal demi hukum, dan yang bersangkutan menjabat kembali jabatannya semula.

10.   Dalam hal seluruh Pengurus diberhentikan sementara,

maka untuk sementara Pengawas diwajibkan mengurus Yayasan.

RAPAT PENGAWAS

Pasal 28

1. Rapat Pengawas dapat diadakan setiap waktu bila

dianggap perlu atas permintaan tertulis dari seorang atau lebih Pengawas atau Pembina.

2. Panggilan Rapat Pengawas dilakukan oleh Pengawas

yang berhak mewakili Pengawas.

3. Panggilan Rapat Pengawas disampaikan kepada setiap

Pengawas secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.

4. Panggilan rapat itu harus mencantumkan tanggal,

waktu, tempat, dan acara rapat.

5. Rapat Pengawas diadakan di tempat kedudukan Yayasan

atau di tempat kegiatan Yayasan.

6. Rapat Pengawas dapat diadakan di tempat lain dalam

wilayah hukum Republik Indonesia dengan persetujuan Pembina.

Pasal 29

1. Rapat Pengawas dipimpin oleh Ketua Umum.

2. Dalam hal Ketua Umum tidak dapat hadir atau

berhalangan, maka Rapat Pengawas akan dipimpin oleh satu orang Pengawas yang dipilih oleh dan dari Pengawas hadir.

3. Satu orang anggota Pengawas hanya diwakili oleh

Pengawas lainnya dalam Rapat Pengawas berdasarkan surat kuasa.

4. Rapat Pengawas sah dan berhak mengambil keputusan

yang mengikat apabila:

a. dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari

jumlah Pengawas.

b. dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat

(4) huruf a tidak tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Pengawas kedua.

c. pemanggilan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat

(4) huruf b, harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.

d. Rapat Pengawas kedua diselenggarakan paling

cepat 10 (sepuluh) hari dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari dari terhitung sejak Rapat Pengawas pertama.

e. Rapat Pengawas kedua adalah sah dan berhak

mengambil keputusan yang mengikat, apabila dihadiri oleh paling sedikit 1/2 (satu per dua) jumlah Pengawas.

Pasal 30

1. Keputusan Rapat Pengawas harus diambil berdasarkan

musyawarah untuk mufakat.

2. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah tidak

tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara setuju lebih dari 1/2 (satu per dua) jumlah suara yang sah.

3. Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama

banyaknya, maka usul ditolak.

4. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan

dengan surat suara tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali Ketua Rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir.

5. Suara abstain dan suara yang tidak sah tidak

dihitung dalam menentukan jumlah suara yang dikeluarkan.

6. Setiap Rapat Pengawas dibuat berita acara rapat

yang ditandatangani oleh Ketua Rapat dan 1 (satu) orang anggota Pengurus lainnya yang ditunjuk oleh rapat sebagai Sekretaris Rapat.

7. Penandatanganan yang dimaksud dalam ayat (6) tidak

disyaratkan apabila berita acara rapat dibuat dengan akta notaris.

8. Pengawas dapat juga mengambil keputusan yang sah

tanpa mengadakan Rapat Pengawas, dengan ketentuan semua Pengawas telah diberitahu secara tertulis dan semua Pengawas memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis dengan menandatangani usul tersebut.

9. Keputusan yang diambil sebagaimana dimaksud dalam

ayat (8), mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam Rapat Pengawas.

RAPAT GABUNGAN

Pasal 31

1. Rapat Gabungan adalah rapat yang diadakan oleh

Pengurus dan Pengawas untuk mendapatkan Pembina, apabila Yayasan tidak lagi mempunyai Pembina.

2. Rapat Gabungan diadakan paling lambat 30 (tiga

puluh) hari terhitung sejak Yayasan tidak lagi mempunyai Pembina.

3. Panggilan Rapat Gabungan dilakukan oleh Pengurus.

4. Panggilan Rapat Gabungan disampaikan kepada setiap

Pengurus dan Pengawas secara langsung, atau melalui surat dengan Jasa Pendirian Yayasan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.

5. Panggilan Rapat Gabungan harus mencantumkan

tanggal, waktu, tempat dan acara rapat.

6. Rapat Gabungan diadakan di tempat kedudukan Yayasan

atau di tempat kegiatan Yayasan.

7. Rapat Gabungan dipimpin oleh Ketua Pengurus.

8. Dalam hal Ketua Pengurus tidak ada atau berhalangan

hadir, maka Rapat Gabungan dipimpin oleh Ketua Pengawas.

9. Dalam hal Ketua Pengurus dan Ketua Pengawas tidak

ada atau berhalangan hadir, maka Rapat Gabungan dipimpin oleh Pengurus atau Pengawas yang dipilih oleh dan dari Pengurus dan Pengawas yang hadir.

Pasal 32

1. Satu orang Pengurus hanya dapat diwakili oleh

Pengurus lainnya dalam Rapat Gabungan berdasarkan surat kuasa.

2. Satu orang Pengawas hanya dapat diwakili oleh

Pengawas lainnya dalam Rapat gabungan berdasarkan surat kuasa.

3. Setiap Pengurus atau Pengawas yang hadir berhak

mengeluarkan 1 (satu) suara dan tambahan 1 (satu) suara untuk setiap Pengurus atau Pengawas lain yang diwakilinya.

4. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan

dengan surat suara tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali Ketua Rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir.

5. Suara abstain dan suara yang tidak sah dianggap

tidak dikeluarkan, dan dianggap tidak ada.

KUORUM DAN PUTUSAN RAPAT GABUNGAN

Pasal 33

1. a. Rapat Gabungan adalah sah dan berhak mengambil

keputusan yang mengikat apabila dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari jumlah anggota Pengurus dan 2/3 (dua per tiga) dari jumlah anggota Pengawas.

b. Dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) huruf a tidak tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Gabungan kedua.

c. Pemanggilan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat

(1) huruf b, harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.

d. Rapat Gabungan kedua diselenggarakan paling

cepat 10 (sepuluh) hari dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak Rapat Gabungan pertama.

e. Rapat Gabungan kedua adalah sah dan berhak

mengambil keputusan yang mengikat apabila dihadiri paling sedikit 1/2 (satu per dua) dari jumlah anggota Pengurus dan 1/2 (satu per dua) dari jumlah anggota Pengawas.

2. Keputusan Rapat Gabungan sebagaimana tersebut di

atas ditetapkan berdasarkan musyawarah untuk mufakat.

3. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk

mufakat tidak tercapai, maka keputusan diambil dengan pemungutan suara Jasa Pendirian Yayasan berdasarkan suara setuju paling sedikit 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah suara yang sah yang dikeluarkan dalam rapat.

4. Setiap Rapat Gabungan dibuat berita acara rapat,

yang untuk pengesahannya ditandatangani oleh Ketua Rapat dan 1 (satu) orang anggota Pengurus atau anggota Pengawas yang ditunjuk oleh rapat.

5. Berita acara rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat

(4) menjadi bukti yang sah terhadap Yayasan dan pihak ketiga tentang keputusan dan segala sesuatu yang terjadi dalam rapat.

6. Penandatanganan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4)

tidak disyaratkan apabila berita acara rapat dibuat dengan akta notaris.

7. Anggota Pengurus dan anggota Pengawas dapat juga

mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan Rapat Gabungan, dengan ketentuan semua Pengurus dan semua Pengawas telah diberitahu secara tertulis dan semua Pengurus dan semua Pengawas memberikan persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis, dengan menandatangani usul tersebut.

8. Keputusan yang diambil dengan cara sebagaimana

dimaksud dalam ayat (7) mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil dengan sah dalam Rapat Gabungan.

TAHUN BUKU

Pasal 34

1. Tahun buku Yayasan dimulai dari tanggal 1 (satu)

Januari sampai dengan tangal 31 (tiga puluh satu) Desember.

2. Pada akhir Desember tiap tahun, buku Yayasan

ditutup.

3. Untuk pertama kalinya tahun buku Yayasan dimulai

pada tanggal dari Akta Pendirian Yayasan dan ditutup tanggal 31 (tiga puluh satu) Desember.

LAPORAN TAHUNAN

Pasal 35

1. Pengurus wajib menyusun secara tertulis laporan

tahunan paling lambat 5 (lima) bulan setelah berakhirnya tahun buku Yayasan.

2. Laporan tahunan memuat sekurang-kurangnya:

a. laporan keadaan dan kegiatan Yayasan selama

tahun buku yang lalu serta hasil yang telah dicapai.

b. laporan keuangan yang terdiri atas laporan

posisi keuangan pada akhir periode, laporan aktivitas, laporan arus kas dan catatan laporan keuangan.

3. Laporan tahunan wajib ditandatangani oleh Pengurus

dan Pengawas.

4. Dalam hal terdapat anggota Pengurus atau Pengawas

yang tidak menandatangani laporan tersebut, maka yang bersangkutan harus menyebutkan alasan tertulis.

5. Laporan tahunan disahkan oleh Pembina dalam rapat

tahunan.

6. Ikhtisar laporan tahunan Yayasan disusun sesuai

dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku dan diumumkan pada papan pengumuman di kantor Yayasan.

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR

Pasal 36

1. Perubahan Anggaran Dasar Yayasan hanya dapat

dilaksanakan berdasarkan keputusan Rapat Pembina, yang dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari jumlah Pembina.

2. Keputusan diambil berdasarkan musyawarah untuk

mufakat.

3. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk

mufakat tidak tercapai, maka keputusan ditetapkan berdasarkan persetujuan paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari seluruh jumlah Pembina yang hadir atau diwakili.

4. Dalam hal kuorum sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) tidak tercapai, maka diadakan pemanggilan Rapat Pembina yang kedua paling cepat 3 (tiga) hari terhitung sejak tanggal Rapat Pembina yang pertama.

5. Rapat Pembina kedua tersebut sah, apabila dihadiri

oleh lebih dari 1/2 (satu per dua) dari seluruh Pembina.

6. Keputusan Rapat Pembina kedua sah, apabila diambil

berdasarkan persetujuan suara terbanyak dari jumlah Pembina yang hadir atau yang diwakili.

Pasal 37

1. Perubahan Anggaran Dasar dilakukan dengan akta

notaris dan dibuat dalam bahasa Indonesia.

2. Perubahan Anggaran Dasar tidak dapat dilakukan

terhadap maksud dan tujuan Yayasan.

3. Perubahan Anggaran Dasar yang menyangkut perubahan

nama dan kegiatan Yayasan, harus mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

4. Perubahan Anggaran Dasar selain yang menyangkut

hal-hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) cukup diberitahukan kepada Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

5. Perubahan Anggaran Dasar tidak dapat dilakukan pada

saat Yayasan dinyatakan pailit, kecuali atas persetujuan kurator.

PENGGABUNGAN

Pasal 38

1. Penggabungan Yayasan dapat dilakukan dengan

menggabungkan 1 (satu) atau lebih Yayasan dengan Yayasan lain, dan mengakibatkan Yayasan yang menggabungkan diri menjadi bubar.

2. Penggabungan Yayasan sebagaimana dimaksud dalam

ayat (1) dapat dilakukan dengan memperhatikan:

a. ketidakmampuan Yayasan melaksanakan kegiatan

usaha tanpa dukungan Yayasan lain;

b. Yayasan yang menerima penggabungan dan yang akan

bergabung kegiatannya sejenis;

atau;

c. Yayasan yang menggabungkan diri tidak pernah

melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Anggaran Dasarnya, ketertiban umum, dan kesusilaan.

3. Usul penggabungan Yayasan dapat disampaikan oleh

Pengurus kepada Pembina.

Pasal 39

1. Penggabungan Yayasan hanya dapat dilakukan

berdasarkan keputusan Rapat Pembina yang dihadiri paling sedikit 3/4 (tiga per empat) dari jumlah anggota Pembina dan disetujui paling sedikit 3/4 (tiga per empat) dari seluruh jumlah anggota Pembina yang hadir.

2. Pengurus dari masing-masing Yayasan yang akan

menggabungkan diri dan yang akan menerima penggabungan menyusun usul rencana penggabungan.

3. Usul rencana penggabungan sebagaimana dimaksud

dalam ayat (2) dituangkan dalam rancangan akta penggabungan oleh Pengurus dari Yayasan yang akan menggabungkan diri dan yang akan menerima penggabungan.

4. Rancangan akta penggabungan harus mendapat

persetujuan dari Pembina masing-masing Yayasan.

5. Rancangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4)

dituangkan dalam akta penggabungan yang dibuat di hadapan notaris dalam bahasa Indonesia.

6. Pengurus Yayasan hasil penggabungan wajib

mengumumkan hasil penggabungan dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak penggabungan selesai dilakukan.

7. Dalam hal penggabungan Yayasan diikuti dengan

perubahan Anggaran Dasar yang memerlukan persetujuan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, maka akta perubahan Anggaran Dasar Yayasan wajib disampaikan kepada Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia untuk memperoleh persetujuan dengan dilampiri akta penggabungan.

PEMBUBARAN

Pasal 40

1. Yayasan bubar karena:

a. alasan sebagaimana dimaksud dalam jangka waktu

yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar berakhir;

b. tujuan Yayasan yang ditetapkan dalam Anggaran

Dasar telah tercapai atau tidak tercapai;

c. putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum

tetap berdasarkan alasan:

1. Yayasan melanggar ketertiban umum dan

kesusilaan;

2. tidak mampu membayar utangnya setelah

dinyatakan pailit; atau

3. harta kekayaan Yayasan tidak cukup untuk

melunasi utangnya setelah pernyataan pailit dicabut.

2. Dalam hal Yayasan bubar sebagaimana diatur dalam

ayat (1) huruf a dan huruf b, Pembina menunjuk likuidator untuk membereskan kekayaan Yayasan.

3. Dalam hal tidak ditunjuk likuidator, maka Pengurus

bertindak sebagai likuidator.

Pasal 41

1. Dalam hal Yayasan bubar, Yayasan tidak dapat

melakukan perbuatan hukum, kecuali untuk membereskan kekayaannya dalam proses likuidasi.

2. Dalam hal Yayasan sedang dalam proses likuidasi,

untuk semua surat keluar dicantumkan frasa “dalam likuidasi” dibelakang nama Yayasan.

3. Dalam hal Yayasan bubar karena putusan pengadilan,

maka pengadilan juga menunjuk likuidator.

4. Dalam hal pembubaran Yayasan karena pailit, berlaku

peraturan perundang-undangan di bidang kepailitan.

5. Ketentuan mengenai penunjukan, pengangkatan,

pemberhentian sementara, pemberhentian, wewenang, kewajiban, tugas dan tanggung jawab, serta pengawasan terhadap Pengurus, berlaku juga bagi likuidator.

6. Likuidator atau Kurator yang ditunjuk untuk

melakukan pemberesan kekayaan Yayasan yang bubar atau dibubarkan paling lambat 5 (lima) hari terhitung sejak tanggal penunjukan wajib mengumumkan pembubaran Yayasan dan proses likuidasinya dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia.

7. Likuidator atau Kurator dalam jangka waktu paling

lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal proses likuidasi berakhir, wajib mengumumkan hasil likuidasi dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia.

8. Likuidator atau Kurator dalam jangka waktu paling

lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal proses likuidasi berakhir wajib melaporkan Pembubaran Yayasan kepada Pembina.

9. Dalam hal laporan mengenai pembubaran Yayasan

sebagaimana dimaksud ayat (8) dan pengumuman hasil likuidasi sebagaimana dimaksud ayat (7) tidak dilakukan, maka bubarnya Yayasan tidak berlaku bagi pihak ketiga.

CARA PENGGUNAAN KEKAYAAN SISA LIKUIDASI

Pasal 42

1. Kekayaan sisa hasil likuidasi diserahkan kepada

Yayasan lain yang mempunyai maksud dan tujuan yang sama dengan Yayasan yang bubar.

2. Kekayaan sisa hasil likuidasi sebagaimana dimaksud

dalam ayat (1) dapat diserahkan kepada badan hukum lain yang melakukan kegiatan yang sama dengan Yayasan yang bubar, apabila hal tersebut diatur dalam Undang-Undang yang berlaku bagi badan hukum tersebut.

3. Dalam hal kekayaan sisa hasil likuidasi tidak

diserahkan kepada Yayasan lain atau kepada badan hukum lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), kekayaan tersebut diserahkan kepada negara dan penggunaannya dilakukan sesuai dengan maksud dan tujuan Yayasan yang bubar.

PERATURAN PENUTUP

Pasal 43

1. Hal-hal yang tidak diatur atau belum diatur dalam

Anggaran Dasar ini akan diputuskan oleh Rapat Pembina.

2. Menyimpang dari ketentuan dalam Pasal 7 ayat (4),

Pasal 14 ayat (1), dan Pasal 25 ayat (1) Anggaran Dasar ini mengenai tata cara pengangkatan Pembina, Pengurus, dan Pengawas untuk pertama kalinya diangkat susunan Pembina, Pengurus, dan Pengawas Yayasan dengan susunan sebagai berikut :

–  PEMBINA :

Ketua :   ,

tersebut;

–  PENGURUS :

–  Ketua:    

   , tersebut;

–  Sekretaris:    

,

tersebut;

–  Bendahara  : 

, tersebut;

–  PENGAWAS :

– Ketua:    ,

tersebut;

3. Pengangkatan anggota Pembina Yayasan, anggota

Pengurus Yayasan dan anggota Pengawas Yayasan tersebut telah diterima oleh masing-masing yang bersangkutan dan harus disahkan dalam Rapat Pembina pertama kali diadakan, setelah Akta Pendirian ini mendapat pengesahan atau didaftarkan pada Instansi yang berwenang.

-Pengurus Yayasan dan/atau

baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri dengan hak untuk memindahkan kekuasaan ini kepada orang lain, dikuasakan untuk memohon pengesahan dan/atau pendaftaran atas Anggaran Dasar ini kepada instansi yang berwenang dan untuk untuk membuat pengubahan dan/atau tambahan dalam bentuk yang bagaimanapun juga yang diperlukan untuk memperoleh pengesahan tersebut dan untuk mengajukan serta menandatangani semua permohonan dan dokumen lainnya, untuk memilih tempat kedudukan dan untuk melaksanakan tindakan lain yang mungkin diperlukan.

-Para penghadap menyatakan dengan ini menjamin akan kebenaran identitas para penghadap sesuai tanda pengenal yang disampaikan kepada saya, Notaris, dan bertanggung jawab sepenuhnya atas hal tersebut danselanjutnya para penghadap juga menyatakan telah mengerti dan memahami isi akta ini;

DEMIKIANLAH AKTA INI

 

Jasa Pendirian Yayasan